Senin, 11 Mei 2015

ASAL MULA DIALEK NGAPAK



SEJARAH NGAPAK
Asal Mula Dialek Ngapak
Asal usul dialek Ngapak tidak terlepas dari asal-usul sejarah orang Banyumas. Setelah ditelusuri lewat Wikipedia, nenek moyang orang Banyumas berasal dari Kutai, Kalimantan Timur pada masa pra-Hindu. Berdasarkan catatan Van Der Muelen, pada abad ke-3 sebelum masehi, pendatang tersebut dating di Cirebon kemudian masuk ke pedalaman. Sebagian menetap di  gunung Cermai dan sebagian lagi mnetap di sekitar lereng gunung Slamet dan lembah sungai Serayu. Pendapat yang menetap di gunung Cermai selanjutnya mengembangkan peradaban Sunda. Sedangkan pendatang yang menetap di sekitar gunung Slamet kemudian mendirikan kerajaan Galuh Purba. Kerajaan Galuh Purba diyakini sebagai kerajaan pertama di Jawa dan keturunan-keturunannya menjadi penguasa-penguasa di kerajaan Jawa selanjutnya.
Kerajaan Galuh Purba berdiri pada abad ke-1 M di gunung Slamet dan berkembang pada abad ke-6 M dengan kerajaan-kerajaan kecil diantaranya:
·        > Kerajaan Galuh Rahyang lokasi di Brebes, ibukota di Medang Pangramesan.
·       >  Kerajaan Galuh Kalangon lokasi di Roban, ibukota di Medang Pangramesan.
·       >  Kerajaan Galuh Lalean lokasi di Cilacap, ibukota di Medang Kamulan.
·       >  Kerajaan Galuh Tanduran lokasi di Pananjung, ibukota di Bagolo.
·        > Kerajaan Galuh Kumara lokasi di Tegal, ibukota di Bagolo.
·        > Kerajaan Pataka, lokasi di Nanggalacah, ibukota di Pataka.
·        > Kerajaan Galuh Imbanagara lokasi di Barunay (Pabuaran), ibukota di Imbanagara.
·       >  Kerajaan Galuh Kalingga lokasi di Bojong, ibukota di Karangkamulyan.
>Kerajaan Galuh Purba mempunyai wilayah kekuasaan yang lumayan luas, mulai dari Indramayu, Cirebon, Brebes, Pemalang, Bumiayu, Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Kedu, Kebumen, Kulonprogo, dan Purwodadi. Berdasarkan prasasti Bogor, karena pamor kerajaan Galuh Purba menurun (kalah pamor dynasti Syailendra di Jawa Tengah yang mulai berkembang) kemudian ibukota kerajaan Galuh Purba kerajaan Galuh Purba pindah ke Kawali (dekat Garut) dan kemudian disebut kerajaan Galuh Kawali.
Pada masa Purnawarman menjadi raja Tarumanegara, kerajaan Galuh Kawali menjadi bawahan kerajaan Tarumanegara. Kemudian pada saat Purnawarman diperintah raja Candrawarman, kerajaan Galuh Kawali kembali mendapatkan kekuasaannya. Pada masa Tarumanegar diperintah oleh raja Tarusbawa, Wretikandayun (raja Galuh Kawali) memisahkan diri (merdeka) dari Tarumanegara dan mendapat dukungan dari kerajaan Kalingga, kemudian menjadi kerajaan Galuh dengan pusat pemerintahan berada di Banjar Pataruman. Kerajaan galuh ini yang kemudian berkambang menjadi kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Meskipun dalam perkembangannya, kerajaan Galuh Purba berkembang menjadi kerajaan besar yaitu Kalingga di Jawa Tengah dan kerajaan Galuh di Jawa Barat. Hubungan keturunan Galuh Purba tetap terjalin dengan baik dan terjadi perkawinan antar kerajaan, sehingga muncul Dinasti Sanjaya yang kemudian mempunyai keturunan raja-raja di Jawa.
Berdasarkan kajian bahasa yang dilakukan oleh E. M Uhlenbeck, 1964, dalam bukunya: “A Critical Survey of Studies Languages on the Java and Madura”, The Hague: Martinus Hijhoff, bahasa yang digunakan oleh “keturunan Galuh Purba” masuk pada Rumpun Basa Jawa Bagian Kulon yang meliputi: Sub Dialek Banten Lor, Sub Dialek Cirebon/Idramayu, Sub Dialek Tegalan, Sub Dialek Banyumas, Sub Dialek Bumiayu. Dialek inilah yang biasa disebut dengan Bahasa Jawa Ngapak.
Tentang Kosakata Ngapak
Aja kaya kuwe, enyong, maning, kepriwe, kencot dll adalah sebagian dari kosakata unik dialek Nagapak. Sebagai orang Banjarnegara, saya penasaran dengan asal-usul bahasa ngapak sebagai bahasa “ibu”. Kalau Anda belum tahu dialek Ngapak, dengarlah cara bicara Parto Patrio atau Cici Tegal. Dialek Ngapak ini mempunyai ciri khas dengan akhiran kata “a” tetap dibaca “a” bukan “o” , Contohnya: Sapa (Ind: Siapa) tetap dibaca Sapa. Selain itu akhiran kata “k” dilafalkan “k’’ yang mantap. Dialek Ngapak ini meliputi wilayah setengah provinsi Jawa Tengah (Cilacap, Tegal, Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kebumen, Banjarnegara, sebagian Wonosobo, Pemalang, sebagian Pekalongan), Cirebon, Indramayu, sebagian daerah Banten (Utara). Karena penasaran, saya mencoba menghimpun semua tulisan yang berkaitan dengan bahasa Ngapak dari berbagai sumber (internet). Semua tulisan ini bukan bermaksud untuk membanggakan diri sebagai orang Jawa atau Ngapak tetapi sebagai sikap menghargai warisan budaya leluhur.
Berdasarkan sumber berbagai tulisan, kesimpulan mengenai bahasa Ngapak antara lain:
·         Dialek Ngapak ini berhubungan dengan asal-usul orang Banyumas yang berasal dari Kutai yang kemudian mendirikan Kerajaan Galuh Purba. Kerajaan Galuh ini berdiri sebelum kerajaan Mataram Kuna. Menurut sejarah, Kerajaan Galuh adalah wilayah merdeka. Oleh sebab itu, saat itu wilayah Galuh disebut sebagai mancanegara oleh orang-orang Kerajaan Mataram. Kemungkinan karena inilah dialek Ngapak bebas dari pengaruh dialek “Mbandhek” / Jawa Wetanan.
·         Dialek Ngapak ini diindikasikan sebagai bahasa Jawa yang masih terdapat unsur Bahasa Sansekerta. “Bhineka Tunggal Ika” merupakan salah satu contoh bahasa Sansekerta dengan akhiran tetap dibaca “a” sebagaimana dialek Ngapak.
·         Dialek Ngapak merupakan identitas kebudayaan suatu daerah yang bebas dari budaya feodalisme dan budaya asli yang bebas dari pengaruh rekayasa politik (Kerajaan). Hal ini dapat dilihat dari karakter khas orang Banyumas yang egaliter dan blakasuta (blak-blakan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar